Postingan

Tiada Siapapun

Kututup mata ini, membayangkanmu Tertawa dalam nadiku Bahagia dalam anganku Tersenyum karena waktu Namun, saat kubuka kedua mata ini Tak ada siapapun di sana Hanya kabut putih Lantas aku berjalan tanpa arah Mencarimu yang hilang tiba – tiba Aku memang menemukanmu Namun kelam yang terlihat Lama waktu berjalan, aku tetap di sini Bersama awan tanpa ujung Tetap tinggal bersama ilusi Bersama waktu yang kian terkikis Hening, dan air mata

Last time

Mungkin dulu hanyalah ilusi, tapi kini aku sadar, semuanya kenyataan yang harus kualami dinginnya waktu membuatku harus kehilangan senyumku senyum yang dulu membuatnya bahagia kini kami terpaut oleh jarak dan waktu terus berputar terkadang waktu begitu kejam, lebih kejam dari seorang pembunuh aku lebih ingin menjadi apatis daripada anak polos yang mudah dibohongi kebersamaanku dengannya hanya ilusi yang tersimpan erat dalam kenangan. Elegi membuatku harus bermimpi buruk setiap malam, tapi nestapaku harus selalu bergeming. Hari ini mungkin hatiku memang seperti batu. Tapi kenangan dan fatamorgana membuatku rapuh. Aku memang menginginkannya kembali, dengan angin yang berhembus membawa kebahagiaan. Bukan lagi elegi dan nestapa.

Hadirmu

Hadirmu hanya menambah luka. melebarkannya tanpa peduli apapun itu. hadirmu hanya menambah mendung berkepanjangan. membawa hujan yang kian mengikis luka. hadirmu hanya membawa delusi. menghantui dalam setiap malam. hadirmu hanya meluruhkan setiap titik air mata. berurai dalam siamnya kegelapan. hadirmu hanyalah pembawa pergi sebuah senyuman. pergi menjauh dengan kesenangan. lantas disini hanya ada nestapa. memang tak lagi terlihat, namun terpampang jelas di wajahnya. hadirmu memang ‘hanya’ namun terlalu. membawa eufora pada awalnya. Dan nestapa pada akhirnya. jadi, lebih baik ia pergi. daripada luka yang dua tahun disimpannya akan kembali memerah. 04/08/13

Luka

aku sendiri, dengan alam. kembali sendiri. dulu aku hanya diam menapaki jalan berbatu itu. karena kakiku telah berdarah. dulu aku tidak peduki luka yang besar sekalipun, kini aku tak ingin lagi seperti itu.  melihat hatiku yang sudah cukup lama tertoreh luka. memang tak berdarah, hanya luka menganga yang tak tampak. harusnya ia tak datang padaku... harusnya ia pergi jika tak suka... harusnya ia menjauh kalau aku hanya seorang penghalang.... pergi padanya jika memang masih menyukainya. bukan padaku yang semakin lama semakin rapuh. semakin lama, semakin terbelit oleh luka. terkadang aku tak kuat,,, dan hanya bisa menangis dalam diam. aku tahu, semuanya akan tetap seperti ini. tetap seperti ini.... seseorang yang hidup dengan luka dalamnya.

Cerpen

Gambar
Spirit of Scout   Sore mulai menghilang. Diganti dengan awan – awan kelabu yang telah menutupi hampir seluruh langit malam. Mendung mulai menyeruak sedari sore tadi. Menghantui seluruh anggota perkemahan yang tengah dilaksanakan di sebuah lapangan. Semua anggota perkemahan yang terdiri dari anak esempe berjalan hilir mudik kesana kemari. Entah apa yang dilakukan. Mungkin sedang melaksanakan kegiatan mereka masing – masing dalam jam bebas. Saat sore masih menjelang. Semuanya melakukan aktifitasnya dengan ringan, tanpa beban. Yang menjadi beban kali ini adalah kegiatan yang akan dilakukan esok hari. Tak tau bahwa langit yang telah menggelayut dengan mendung. Dan semuanya baru menyadari setelah sore telah berganti malam. Semuanya hendak melakukan sholat maghrib berjamaah setelah adzan maghrib berkumandang. Semuanya berkumpul. Dan aku, aku yang baru selesai mandi dari kamar mandi orang langsung berlari ke arah tenda sekol...