Postingan

MY TRIGGER WARNING EATING DISORDER

Hello, it's been a long time when I open this blog again. I was 21th when I understood about my condition. exactly, I was bulimic, anorexic and.... a new supricing disorder. BINGE EATING DISORDER. Fuck those up. I don't know when it started. it think it begin when I enter the new university. The Institute was the number one in my country. I thought it was better than my last university. The first university is in my hometown, I'm in chemical engineering. I thought it was stressed, more than I know for my entire live.  I DON'T LOVE MY SELF FOR REAL. I do the self harming. God damn! those people in internet says that "YOU DESERVE TO BE HAPPY". for before, I realize that I've been happy for so long but I'm realize for all the time. fuck, it's not me. who typing this story, my live was changed directly such as night become morning. SHIT. this time while I typing this story, I don't know how much I hate my self. I need to be streched my hand by cutt

Kesatria masa lalu

Pada jaman dahulu, di sebuah negeri di samping lautan dan di dekat hutan. hidupseorang gadis sederhana dengan keluarganya yang miskin. suatu hari, ketika gadis itu berumur 7 tahun, dirinya mengikuti sebuah lomba dimana siapapun yang ingin ikut lomba itu, diperbolehkan. dan semua orang akan beradu pada satu waktu di lomba itu tanpa mengenal kasta. Waktu itu, gadis itu memiliki semangat untuk mengikuti lomba. hingga pada suatu hari, ia dipertemukan dengan seorang anak lelaki berbaju bagus, dengan sepatu biru dongker mengkilat. tak seperti dirinya yang kumuh. gadis kecil itu mengenalnya sebagai "anak para bangsawan". begitulah, pertama kali mereka bertemu. dan awal kisah dari kehidupan mereka selanjutnya. *** sepuluh tahun berlalu, gadis itu kini menjadi seorang gadis yang pandai di desanya. hingga pada suatu hari ia bertekad untuk menjadi kesatria. pergilah ia ke negeri seberang. tempat asing berbau amisnya lautan dan teriknya matahari ketika siang. ia belajar disana, agar

Tabir Kebohongan

Tali yang kau ulurkan, kini aku melepaskannya. Meninggalkan tali yang masih kau pegang. Aku tidak peduli lagi kini. Kau terlalu lama menambah luka. Setiap tahunnya. Lukaku semakin memerah. Lantas aku pergi untuk menjauhimu. Tak kuat menahan luka yang terus kusembunyikan. Tak lagi ingin meneruskan luka itu. Aku hanya ingin pergi menjauh... Bersama luka ini yang terus membakar. Menjauh darimu yang kini tak lagi peduli. Kau tak tau... Aku... Tertutup tabir kebohongan. Tawaku yang selama ini menggema, senyum yang selama ini menyungging... Hanya sebuah kebohongan. Aku tak ingin menunjukkan air mata dibaliknya. Yang aku inginkan hanya melihatmu bersama orang lain... Walau aku sendiri tak rela..

Sirius

Kau terlalu tinggi, terlalu jauh, terlalu besar. Melayang bersama seribu bintang tak bertuan. Berjajar di antara kehidupan. Aku ingin sepertimu sirius. Bersinar terang layaknya mentari. Namun terlalu jauh, terlalu bersinar. Sehingga aku, setitik debu yang mengelilingi angkasa tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa tau dimana akhirnya, hanya menatapmu dengan segenggam asa. Aku lebih memilihmu sirius, daripada mentari. Karena mentari pergi jauh meninggalkanku sendiri. Disini, di angkasa tak bertuan bersama gemerlap bejuta bintang.

Aku Tanpamu

Dunia mengekangku tanpamu. Aku sendiri dengan bayangmu Lelah menunggu yang tak pasti Hingga aku terbangun dengan malam Aku sendiri, diam bersama kegelapan Mengejar cahaya, dengan air mata Tanpa senyuman, tanpa tawa Aku sendiri   bersama dingin Menatapi awan kelam dalam duka Yang terlihat hanya gelap Setelah kau pergi menjauh. Aku rapuh karena angin mengikisku Lantas aku hanya pergi mencari cahaya. Tanpa menemukanmu. Aku hanya tertawa dalam diam Meratapi kenanganku yang membekas. Dan aku hanya diam, menunggu waktu untuk kembali

Mereka...

Telah kutuliskan sebait puisi untuk mereka. Dulu.... Saat aku merasa benar – benar merindukan mereka. Dulu.... Mereka menuntunku meraih asa. Dalam rangkaian hidup   yang kumiliki. Pernah dahulu mereka menghilang. Tanpa sepatah katapun yang mereka ucapkan. Kini... Mereka datang serempak. Dengan segaris cakrawala yang mereka gapai. Mereka memberiku salah satunya.... Walau mereka datang agak terlambat. Pagi kemarin aku bersusah payah mencari mentari. Tapi pagi ini mentari itu datang secara tiba – tiba. Yang kubutuhkan hari ini dan esok adalah kesetiaan. Dimana kejujuran dan keikhlasan bergabung menjadi satu. Aku terisak dalam hariku dulu, akupun tersenyum dalam hariku kini.

Senja

Bersikeras aku menahan tangis, saat kenangan lalu itu kembali terkenang. disaat matahari itu akan kembali pada peraduannya. senja sore itu membiaskan kedamaian yang tak lagi kudapatkan. Membiaskan siluet hitam wajahnya yang masih bertengger di hatiku. ia menatapnya. seolah senja itu adalah miliknya seorang. yang menatapnya sendu dengan llinangan air mata. Ia tahu, bahwa senja itu bukan hanya miliknya. tapi juga milik orang lain. ia berpaling, dan pergi meninggalkan senja yang masih menatapnya. aku melihatnya pergi. Walau hanya siluet hitam yang ditelan oleh senja, air mataku merebak. tetes demi tetes aiir mataku menyembul juga. saat fatamorgana itu seolah nyata. yang terikat erat dalam kenangan.